Kehadiran struktur partai hingga tingkat kabupaten itu memperlihatkan bahwa kerja-kerja kemanusiaan pascabencana tidak berhenti pada penanganan kebutuhan material. Solidaritas juga hadir melalui keberanian untuk mendatangi keluarga yang sedang berduka, mendengar langsung situasi mereka, dan memberikan penguatan di tengah kehilangan.
Dari Seminari Tinggi Ritapiret, rangkaian kunjungan kemanusiaan tersebut dijadwalkan berlanjut ke Nele, kemudian menuju Waipare, Desa Hiegetegera, Kecamatan Kangae, serta Kampung Lokaria, Desa Habi, Kecamatan Kangae.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari gerak solidaritas jajaran PDI Perjuangan di Kabupaten Sikka dalam merespons dampak gempa yang tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menghadirkan luka kemanusiaan bagi warga.
Bagi warga lokal, langkah yang dilakukan Lusia Adinda Dua Nurak, Emanuel Kolfidus bersama jajaran PDI Perjuangan Sikka itu memperlihatkan satu pesan sederhana: ketika bencana datang, keberpihakan tidak cukup disampaikan melalui kata-kata. Ia harus hadir di tengah rakyat, termasuk ketika yang tersisa adalah duka dan kehilangan.
Gempa telah berlalu dari detik ke detik, tetapi bagi keluarga korban dan masyarakat terdampak, pemulihan membutuhkan waktu. Karena itu, solidaritas yang hadir secara langsung menjadi bagian penting dari proses menguatkan kembali mereka yang sedang menghadapi masa sulit.
Di tengah suasana duka di Seminari Tinggi Ritapiret, penghormatan kepada Frater Leo sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka korban bencana, terdapat manusia, keluarga, cita-cita, dan kehidupan yang tidak dapat diukur hanya dengan statistik.
Frater Leo telah pergi. Namun, doa, empati, dan solidaritas dari mereka yang datang menyapa menjadi bagian dari penghormatan terakhir sekaligus kekuatan bagi mereka yang masih melanjutkan kehidupan. (**/Tim)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe












