339 Guru dari 40 Sekolah Ikut Coaching for Educators

  • Bagikan
IMG 20251113 WA0000

“Kami enam orang datang, tapi dua teman tidak bisa ikut karena harus menjaga anak kecil. Tapi kami tetap semangat karena tahu pelatihan ini penting. Kami ingin belajar memperbaiki diri supaya bisa mendidik lebih baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, tema “Kudidik Diriku Sebelum Kudidik Muridku” sangat relevan dengan kondisi para guru di pedesaan. Menurutnya, guru harus lebih dulu memiliki karakter dan mental yang kuat sebelum mendidik murid di sekolah.

“Kalau pribadi kami sudah baik, kami bisa mendidik anak-anak dengan cara yang lebih baik juga. Kami berharap bisa membawa perubahan di sekolah setelah ikut pelatihan ini,” tambahnya.

Pelatihan selama empat hari ini juga mendapat dukungan penuh dari pimpinan Yaswari. Ketua Yayasan menilai kegiatan semacam ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di wilayah TTS yang masih menghadapi banyak keterbatasan.

Menurut Helen, pelaksanaan kegiatan untuk 39 sekolah sekaligus bukan hal mudah. Para guru menempuh perjalanan panjang dari desa-desa terpencil menuju Soe. Namun, semangat mereka untuk belajar menjadi bukti kesungguhan dalam meningkatkan kualitas diri.

“Bahkan sebelum kegiatan dimulai, banyak guru yang sudah menyatakan kesiapannya untuk berubah. Ini tanda positif bahwa transformasi sedang terjadi,” kata Helen.

Romo Blasius Ade Udjan, Pr. S.Fil selaku Yayasan Swastiaari Keuskupan Agung Kupang Cabang TTS, menjelaskan bahwa coaching ini merupakan bentuk pendampingan berkelanjutan bagi guru-guru Yaswari agar memiliki kemampuan mengelola kelas dan berinteraksi dengan murid secara lebih manusiawi.

“Ini bukan pelatihan teknis, tapi pembentukan karakter. Kami ingin guru memiliki sikap, cara pandang, dan mental yang matang. Guru harus dididik dulu sebelum mendidik muridnya,” ujarnya.

Helen berharap, setelah pelatihan ini selesai, para guru kembali ke sekolah masing-masing membawa semangat baru dan membangun kultur mengajar yang berlandaskan kasih. “Kalau satu guru berubah, satu sekolah bisa berubah. Dari situ, masa depan pendidikan TTS juga bisa berubah,” tutupnya.*

  • Bagikan