Sementara itu, untuk TNI Angkatan Udara, perwakilan orang tua menyebutkan bahwa 35 kadet yang mengikuti seleksi gelombang pertama dinyatakan lolos seluruhnya dan sedang menjalani pendidikan.
Perbedaan hasil seleksi tersebut semakin menimbulkan pertanyaan setelah, lebih lanjut ia menyebut terdapat sekitar 16 kadet yang dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam seleksi TNI Angkatan Darat, tetapi kemudian dinyatakan lulus ketika mengikuti seleksi TNI Angkatan Udara.
Para orang tua mengaku belum memahami alasan perbedaan hasil tersebut. Mereka berharap pihak berwenang dapat memberikan penjelasan mengenai mekanisme seleksi sekaligus tindak lanjut bagi kadet yang belum berhasil.
Sudah Berulang Kali Berkoordinasi dengan Unhan
Mewakili seluruh anggota paguyuban Marthen mengatakan, para orang tua sebenarnya telah berulang kali berupaya mendapatkan penjelasan dari pihak Universitas Pertahanan.
Upaya itu dilakukan melalui pertemuan tatap muka, komunikasi melalui telepon, hingga surat-menyurat. Mereka mengaku telah menyampaikan surat kepada pihak rektorat, Kementerian Pertahanan, dan instansi terkait di tingkat pusat.
Namun, menurut mereka, upaya tersebut belum memberikan jawaban yang diharapkan mengenai persoalan yang dihadapi para kadet Cohort III.
Karena itu, ketika memperoleh informasi mengenai rencana kunjungan Menteri Pertahanan ke Sekolah Unggul Garuda Baru Soe, mereka memutuskan datang dari berbagai daerah untuk berupaya bertemu langsung dengan pejabat yang memiliki kewenangan mengambil kebijakan.
Pembatalan kunjungan tersebut membuat mereka kecewa karena kesempatan untuk menyampaikan persoalan secara langsung tidak terwujud.
Meski demikian, mereka berharap masih ada kesempatan untuk bertemu Menteri Pertahanan, Panglima TNI, maupun Presiden Republik Indonesia guna menjelaskan kondisi yang dialami anak-anak mereka.
Di sela-sela wawancara, Marthen kembali menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut keinginan orang tua agar anak-anak mereka menjadi anggota TNI. Mereka juga berharap pemerintah melihat kebutuhan sumber daya manusia di NTT dan memberikan kejelasan mengenai masa depan para kadet yang telah menjalani pendidikan dengan dukungan negara.
Ia mengungkapkan, sejak Agustus 2023, ketika para kadet mulai menjalani pendidikan di Unhan, para orang tua telah menaruh kepercayaan besar kepada institusi tersebut.
Ia juga mengingat komunikasi melalui pertemuan daring bersama Rektor Unhan saat itu, Joni. Menurutnya, dalam pertemuan tersebut, rektor menyampaikan bahwa anak-anak mereka telah diserahkan kepada pihak universitas sebagai perwakilan negara.
Pernyataan itu, katanya, menjadi salah satu alasan para orang tua merasa bangga dan percaya bahwa anak-anak mereka dipersiapkan menjadi sumber daya manusia yang dapat mengabdi bagi bangsa dan negara.
Para orang tua berharap persoalan yang dihadapi Cohort III dapat memperoleh perhatian serius dari pemerintah. Mereka tidak meminta proses seleksi diabaikan atau anak-anak mereka diistimewakan, tetapi menginginkan proses yang transparan serta penjelasan mengenai tindak lanjut bagi kadet yang belum dinyatakan lolos.
Bagi mereka, pendidikan yang telah dijalani selama kurang lebih tiga tahun dengan dukungan negara merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda untuk berkontribusi bagi bangsa.
Karena itu, mereka berharap pergumulan yang disampaikan melalui paguyuban tersebut mendapat jawaban dari pihak berwenang agar masa depan para kadet Cohort III tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













