Topik : 

Enam Anak Pengungsi di GOR Nekmese Terinfeksi Penyakit Menular

Reporter : Mesron Nome
  • Bagikan
VideoCapture 20250325 160555

Enam anak pengungsi di GOR Nekmese, Soe, terinfeksi penyakit menular mumps. Desk kesehatan meminta mereka segera dipisahkan untuk mencegah penyebaran lebih luas. Namun, hingga kini mereka masih berada dalam satu bangunan.

Soe, TIMOR SAVANA.COM – Enam anak pengungsi di GOR Nekmese, Soe, terinfeksi penyakit menular mumps atau gondongan. Mereka merupakan korban bencana longsor dari Kuatae dan Kampung Sabu, Kota Soe. Saat ini, mereka hanya ditempatkan di ruang berbeda dalam GOR yang sama, tanpa pemisahan khusus yang lebih ketat.

Tim kesehatan di posko pengungsian menyatakan bahwa mumps adalah penyakit yang sangat menular, terutama di lingkungan padat seperti tempat pengungsian. Virus ini menyebar melalui percikan air liur saat batuk, bersin, atau berbicara. Jika tidak segera dipisahkan dengan benar, ada risiko penularan ke anak-anak lain yang masih sehat.

Baca Juga :  Longsor di Kota Soe : 708 Warga Mengungsi

Desk kesehatan di posko telah merekomendasikan agar anak-anak yang terinfeksi segera dipindahkan ke lokasi khusus untuk menghindari penyebaran lebih lanjut. “Penyakit ini menular, sehingga harus benar-benar dipisahkan dari anak-anak lain,” ujar tim medis di posko. Namun, hingga saat ini, mereka masih berada dalam satu bangunan yang sama dengan pengungsi lainnya.

Diketahui, mumps dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang otak (ensefalitis), radang testis (orkitis) pada anak laki-laki, serta gangguan pendengaran. Anak-anak dengan daya tahan tubuh lemah lebih rentan mengalami gejala berat. Oleh karena itu, tindakan isolasi yang lebih ketat sangat dibutuhkan untuk mencegah wabah di dalam posko.

DPRD TTS, melalui Ketua Komisi IV Egi Usfunan, menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi ini dan mendesak pemerintah daerah untuk segera mencari solusi. Ia menegaskan bahwa anak-anak yang sakit harus benar-benar dipisahkan agar tidak menambah risiko bagi pengungsi lainnya. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pemindahan ke fasilitas yang lebih layak seperti Balai Latihan Kerja (BLK).

Kondisi saat ini menurut Egi, sangat beresiko jika para penderita masih digabungkan. “Anak-anak yang terinfeksi jika masih berada dalam satu bangunan dengan pengungsi lainnya, risiko penularan tetap tinggi, terutama pada anak-anak lainnya”, tegasnya.

Di sisi lain, tim medis terus melakukan pemantauan terhadap seluruh pengungsi untuk mendeteksi kemungkinan adanya kasus baru. Pemeriksaan rutin dan edukasi kesehatan juga diberikan kepada para orang tua agar lebih waspada terhadap gejala mumps.

  • Bagikan