450 Ekor Babi Kembali Dikirim ke Sumba, Simson Polin Desak Kapal Reguler Angkut Ternak

Reporter : Lia kiki Editor: Redaksi
  • Bagikan
20260912 104721

KUPANG, timorsavana.com – Pengiriman ternak babi dari Pulau Timor menuju wilayah Sumba kembali dilakukan melalui Pelabuhan Bolok, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) sabtu 12 september 2026.

Sebanyak sekitar 450 ekor babi diberangkatkan menggunakan kapal perintis ASDP menuju Waingapu, Sumba Timur. Pengiriman tersebut menjadi langkah awal setelah distribusi ternak babi sempat tertahan selama kurang lebih dua bulan.

Anggota DPRD Provinsi NTT Simson Polin, mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi NTT yang memfasilitasi pengiriman ternak babi tersebut.

Menurut Simson, selama hampir dua bulan terjadi penumpukan sekitar 450 ekor ternak babi milik para peternak dan pengusaha yang terkendala dalam proses pengiriman.

“Lewat konsultasi dan komunikasi yang baik, saya dari Komisi IV selalu mengawal. Kita bersyukur hari ini kapal ASDP yang merupakan kapal perintis sudah mengangkut kurang lebih 12 truk sedang dan enam pickup, dengan sekitar 450 ekor babi,” kata Simson.

Ia menjelaskan, ternak tersebut akan dibawa menuju Sabu Raijua dan Waingapu, Sumba Timur. Namun, untuk saat ini, pelabuhan yang dapat menerima pengiriman ternak babi tersebut baru berada di Sumba Timur.

Simson mengatakan, pengiriman kali ini merupakan solusi jangka pendek. Untuk jangka menengah, pihaknya mendorong agar kapal penyeberangan reguler tetap dapat mengangkut ternak babi dengan kapasitas minimal dua truk sedang atau sekitar 35 ekor.

“Jangka menengah itu kami minta supaya di penyeberangan reguler tetap bisa mengangkut minimal dua truk sedang yang isinya 35 ekor,” ujarnya.

Sementara untuk jangka panjang, DPRD NTT mendorong pemerintah agar menyediakan atau memodifikasi kapal khusus ternak sehingga dapat digunakan untuk mengangkut babi.

Simson menyebut, NTT memiliki sejumlah kapal ternak yang selama ini digunakan untuk mengangkut sapi, kambing, kuda, kerbau dan ternak lainnya. Ia berharap pemerintah dapat mengusulkan agar pengangkutan babi juga masuk dalam nomenklatur kapal tersebut atau disiapkan kapal yang dimodifikasi khusus untuk ternak babi.

Baca Juga :  Umat Paroki Arnoldus Jansen Jak Swadaya Perbaiki Jalan

Menurutnya, kebutuhan ternak babi di NTT cukup tinggi karena tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan kebutuhan sosial dan budaya masyarakat.

“Ternak babi ini adalah ternak budaya yang sering dipakai di acara-acara pernikahan, baik itu duka maupun acara lainnya. Sehingga kebutuhannya sangat tinggi,” katanya.

Simson menilai kelancaran distribusi ternak babi akan memberikan dampak ekonomi bagi peternak dan pengusaha. Dengan ketersediaan stok yang cukup di Sumba, harga ternak di daerah tersebut diharapkan lebih kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat.

Selain itu, kelancaran pengiriman juga membantu pengusaha yang sebelumnya mengalami kesulitan akibat ternak mereka tertahan selama dua bulan. Sebagian pengusaha, kata Simson, menggunakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) sehingga terhambatnya distribusi dapat berdampak pada kemampuan mereka membayar cicilan.

Ia mengusulkan agar ke depan pengiriman ternak babi ke Sumba dapat dilakukan secara rutin, misalnya tiga kali dalam seminggu, yakni Senin, Kamis dan Jumat, dengan kapasitas dua truk setiap keberangkatan.

Meski demikian, Simson menegaskan bahwa aspek kesehatan ternak tetap harus menjadi perhatian utama. Setiap ternak yang dikirim harus memenuhi ketentuan karantina dan vaksinasi agar tidak membawa penyakit yang dapat mengganggu populasi ternak di Sumba.

“Prinsipnya kita mendukung semuanya karena ini juga akan menambah pendapatan ekonomi masyarakat di tengah efisiensi anggaran saat ini,” ujarnya.

 

Petugas Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) NTT drh. Evi Deaviani Hadi, mengatakan pengiriman kali ini dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan Pemerintah Sumba Timur. Persiapan administrasi dan dokumen kesehatan ternak telah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya.

Dari sekitar 430 ekor yang dokumennya telah lengkap hingga 11 September, terdapat tambahan sekitar 20 ekor milik salah seorang pengusaha sehingga total yang direncanakan mencapai sekitar 450 ekor.

Baca Juga :  Operasi Miras, Polsek Alak Berhasil Sita Puluhan Liter Sopi: Penjual Ilegal Ditindak

“Memang direncanakan dimuat dalam 12 truk. Tapi hari ini kita turun langsung ke dalam kapal untuk melihat secara langsung apakah benar jumlahnya demikian,” jelas Evi.

  • Bagikan