Sopir ambulans UPT Puskesmas Panite membantah klarifikasi Kadinkes TTS. Ia mengaku tak pernah diperiksa dan mengungkap persoalan BBM serta perawatan ambulans.
Soe, TimorSavana.com || Keterangan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dr. RA. Karolina Tahun terkait penanganan almarhum Gustaf Nabuasa di UPT Puskesmas Panite mendapat bantahan dari salah satu petugas yang disebut telah diperiksa.
Sopir ambulans UPT Puskesmas Panite berinisial AM mengaku keberatan dengan keterangan tertulis Kepala Dinas Kesehatan TTS yang menyebut telah melakukan pemeriksaan terhadap lima orang terkait penanganan Gustaf Nabuasa. AM mengatakan dirinya tidak pernah diperiksa oleh pihak puskesmas maupun Dinas Kesehatan TTS.
Pernyataan itu disampaikan AM kepada TimorSavana.com melalui sambungan telepon pada Sabtu (19/8/2026). Ia mengatakan baru mengetahui dirinya disebut sebagai salah satu petugas yang diperiksa setelah membaca pemberitaan mengenai klarifikasi Dinas Kesehatan TTS.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan TTS memberikan klarifikasi tertulis terkait tudingan keluarga Nabuasa mengenai lambannya pelayanan terhadap Gustaf Nabuasa pada Juni 2026. Gustaf kemudian dirujuk dan meninggal dunia di RS Siloam Kupang.
Dalam klarifikasi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan TTS menyebut telah memeriksa lima orang yang berkaitan dengan pelayanan terhadap pasien, yakni seorang dokter, tiga perawat dan seorang sopir.
Namun, AM yang disebut sebagai sopir dalam pemeriksaan tersebut membantahnya. Ia menegaskan tidak pernah dimintai keterangan dalam pemeriksaan sebagaimana yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan TTS.
“Beta sonde pernah diperiksa, baik di puskesmas maupun di dinas,” kata AM.
AM juga membantah bagian klarifikasi yang menyebut ambulans dalam kondisi rusak. Menurut dia, kendaraan tersebut tidak mengalami kerusakan berat dan masih dapat digunakan. Persoalannya, kata dia, kendaraan hanya membutuhkan penggantian oli dan kampas rem.
“Itu mobil sonde rusak, Kaka. Beta yang sopir dan tau betul dia punya kondisi. Itu hanya masalah kampas deng oli yang belum ganti,” ujarnya.
Tak hanya soal kondisi kendaraan, AM juga mengungkap persoalan lain yang menurut dia perlu mendapat perhatian, yakni keterbatasan biaya operasional bahan bakar ambulans.
Ia mengatakan, selama menjadi sopir ambulans, dirinya biasa mendapatkan biaya pengisian bahan bakar sekitar Rp100.000 setiap kali pengisian. Menurutnya, jumlah tersebut membuat dirinya khawatir apabila ambulans harus menempuh perjalanan rujukan yang cukup jauh.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













