Ambulans Terlambat, Oksigen Hampir Habis di Jalan: Dinkes TTS Klarifikasi Penanganan Alm. Gustaf Nabuasa

Reporter : Jack Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260827 WA0026

Lima tenaga kesehatan tersebut yakni dr. Diana Markus, Yustin E.F. Babys, S.Kep., Ns., Frederikus Tue, S.Kep., Ns., Irada Siwa, S.Kep., Ns., dan Yandri Manafe. Keterangan mereka memberikan versi berbeda mengenai sejumlah persoalan yang dipertanyakan keluarga.

Soal keterlambatan rujukan, Dinas Kesehatan TTS menyatakan Gustaf belum langsung diberangkatkan karena kondisinya dinilai tidak stabil dan harus terlebih dahulu distabilkan. Di saat yang sama, satu ambulans disebut sedang digunakan untuk merujuk spesimen ke Puskesmas Kualin, sedangkan ambulans lainnya dalam kondisi rusak.

Penjelasan mengenai oksigen juga diberikan. Menurut dr. Ria, sapaan Kepala Dinas Kesehatan TTS, Gustaf menggunakan oksigen dari tabung berukuran kecil. Kebutuhan oksigen selama perjalanan disesuaikan dengan saturasi oksigen atau SpO2 pasien. Karena pemakaian tersebut, persediaan oksigen disebut hampir habis dan petugas kemudian memutuskan meminjam oksigen di Puskesmas Siso.

Namun penjelasan itu belum serta-merta menghapus pertanyaan mengenai kesiapan ambulans. Justru muncul pertanyaan lanjutan: apakah jumlah oksigen yang dibawa sejak awal sudah dihitung berdasarkan kondisi pasien dan jarak menuju rumah sakit rujukan? Sebab, kekurangan oksigen di tengah perjalanan berpotensi membuat waktu evakuasi pasien kritis kembali terbuang.

Persoalan lain menyangkut luka kepala Gustaf. Keluarga menyebut saat tiba di RSUD Soe, muncul pertanyaan dari petugas mengenai mengapa luka kepala korban belum dijahit. Dinas Kesehatan menjelaskan, tenaga kesehatan di Puskesmas Panite kesulitan menemukan sumber atau titik pendarahan sehingga proses tersebut belum dapat dilakukan. Upaya mencari sumber pendarahan disebut berlangsung ketika keluarga terus mendesak agar Gustaf segera dirujuk ke Soe.

Sementara itu, Charles Nabuasa disebut dipindahkan dari tempat Gustaf ke ruangan lain. Dinas Kesehatan menjelaskan, saat itu IGD Puskesmas Panite dalam kondisi sangat ramai, baik oleh pasien maupun keluarga dan pengunjung. Charles kemudian ditempatkan di ruang rawat jalan yang memiliki tempat tidur kosong demi ketenangan pasien.

Baca Juga :  Kapolres TTS Segera Gelar Perkara Dugaan Pemerasan oleh Kades Linamnutu

Di sisi lain, hasil BAP juga memuat keterangan yang tak kalah serius. Dr. Diana Markus bersama dua perawat yang bertugas menyatakan mereka bekerja dalam situasi penuh tekanan, intimidasi, bahkan ancaman dari keluarga dan pengunjung. Mereka menyebut kondisi tersebut membuat konsentrasi dalam menentukan intervensi medis maupun keperawatan terganggu.

  • Bagikan