Mahasiswa Jikom Undana bersama WALHI NTT Menggelar Eco-Talk Bertajuk: Menguak Mitos dan Fakta Seputar Lingkungan Hidup

  • Bagikan
IMG 20231017 WA0021

Selain itu Ketua FPRB Provinsi NTT, Norman Riwu Kaho memberikan pendapatnya mengenai pembangunan di NTT telah menggunakan konsep adaptasi perubahan iklim merupakan fakta atau mitos. Menurutnya, pembangunan di NTT yang menggunakan konsep adaptasi perubahan iklim belum maksimal dan masih jauh dari harapan.

“Kalau kita hanya taruh beban tersebut di pemerintah semata, oleh karena itu sekarang kita mulai bergerak, bukan hanya pemerintah, pemerintah hanya salah satu aktor, tapi bagaimana aktor-aktor lain dalam heliks-heliks tersebut mampu bergerak,” tegas Norman Riwu Kaho.

Ia berharap semua pihak harus mempunyai kesadaran masing-masing, sehingga pemerintah yang menjadi penggerak, akademisi, perguruan tinggi, pers media, wirausaha, serta masyarakat itu sendiri harus bergandeng tangan dan bekerja bersama-sama, model kerja seperti inilah yang menurut Norman akan membangun NTT.

Tak hanya Norman Riwu Kaho, Maria Bernadeth Tukan memberikan pendapatnya mengenai pelestarian hewan endemik di NTT, menurutnya pembagian flora fauna bagi daratan NTT dan Sulawesi sama yaitu perpaduan antara asiatis dan australis sehingga kita disebut endemik dan benar-benar endemik.

“Karena kita di NTT ini bisa dikatakan paling unik diantara lain karena kita punya cirinya, dan kalau di NTT sendiri sebenarnya banyak sekali flora dan fauna yang endemik tapi kita hanya fokus pada beberapa spesies saja,” tutur Maria Bernadeth Tukan selaku Youth Engagement Officer Yayasan PIKUL Voice for Just Climate Action.

Kurangnya perhatian pada beberapa hewan endemik di NTT sehingga menjadi terabaikan, membuat orang-orang hanya fokus saja pada beberapa hewan endemik padahal NTT memiliki banyak sekali hewan endemik yang patut diberi perhatian lebih.

Menurut Radit Giantiano dari Extinction Rebelliton Kupang, kalau dilihat akhir-akhir ini, anak muda sangat sadar akan masalah iklim dan lingkungan, bisa dilihat banyak di daerah-daerah maupun di Kota Kupang sebagian anak muda sudah sadar karena sekarang di Indonesia dilanda banyak sekali bencana alam, dan itu membuat mata anak muda sadar akan pentingnya menjaga alam. Tetapi pergerakan anak muda masih sedikit, sebenarnya banyak anak muda yang semangat namun belum kuat untuk bersuara untuk melakukan aksi-aksi langsung di lingkungan sehingga membutuhkan dorongan yang kuat dari pemerintah.*

  • Bagikan