“Seharusnya koordinasi antara Pemda dengan pihak terkait bisa berjalan lebih baik. Pemda tidak perlu bekerja sendiri, tetapi cukup memberikan dukungan dalam bentuk materi dan material. Sayangnya, hal itu tidak terlihat,” tegas Aldi.
Banjir yang melanda Desa Toineke dinilai terjadi akibat tidak adanya rehabilitasi Sungai Noemuke. Aldi mengungkapkan, sejak lama masyarakat setempat telah menyampaikan permintaan rehabilitasi kepada pemerintah. Namun, hingga kini, permintaan tersebut hanya sebatas janji tanpa realisasi. Ia juga mempertanyakan pengawasan dari DPRD TTS Dapil V yang dianggap kurang serius menyikapi persoalan ini.
Hal serupa terjadi di Desa Bena, yang kini menghadapi kerusakan jalan sepanjang area persawahan akibat banjir. Jalan berlubang yang dibiarkan tanpa perbaikan bahkan telah memakan korban jiwa. Kondisi ini menjadi “kado musiman” yang menyulitkan masyarakat setempat setiap musim hujan tiba.
IKMAS-TTS mendesak Pemda TTS untuk segera mengambil langkah darurat, termasuk evakuasi korban, perbaikan infrastruktur, dan penyediaan bantuan kepada masyarakat terdampak. Menurut Aldi, tanggap darurat ini sangat penting untuk meminimalkan kerugian dan memastikan keselamatan warga.
Selain itu, Aldi juga menuntut Pemda TTS segera merealisasikan rehabilitasi Sungai Noemuke sebagai upaya jangka panjang untuk mencegah banjir serupa terjadi kembali. Ia berharap adanya keseriusan Pemda dalam menangani persoalan ini, bukan hanya memberikan janji tanpa tindakan nyata.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













