IPACS 2025 Resmi Dibuka : Merayakan Persaudaraan dan Keberlanjutan Budaya

Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20251112 WA0035

Ia menjelaskan, selama beberapa dekade, teori dominan mengenai asal-usul manusia dikenal sebagai Out of Africa. Namun, temuan-temuan terbaru menghadirkan perspektif baru yang menarik, sebuah narasi yang disebut Out of Nusantara. Narasi ini menggambarkan bahwa pergerakan manusia purba bukanlah perjalanan satu arah, melainkan jaringan lintasan migrasi multiregional, di mana kawasan Pasifik dan Oseania berperan sebagai koridor penting bagi mobilitas dan navigasi manusia awal.

“Dari sinilah lahir migrasi Austronesia kuno, yang menghubungkan Indonesia dengan Pasifik melalui budaya Lapita serta warisan bersama masyarakat Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia,” tambahnya.

Dari sisi ekonomi, Fadli Zon menyampaikan bahwa Indonesia dan negara-negara Pasifik memiliki potensi besar untuk menjadikan kebudayaan sebagai mesin pertumbuhan bersama melalui pengembangan industri budaya dan ekonomi kreatif.

Sektor ini, menurutnya, kini menyumbang sekitar 4,3 triliun dolar AS atau sekitar 6 persen dari total ekonomi dunia. Selain itu, ia juga menyoroti peran penting generasi muda di era digital sebagai penggerak utama kekuatan budaya masa depan.

“Kekuatan budaya kita terletak pada generasi muda. Hampir 30 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 30 tahun dimana generasi digital yang menjadi motor penggerak kreativitas dan inovasi. Demikian pula di kepulauan Pasifik, sekitar 45 persen dari 1,6 juta penduduknya berusia di bawah 25 tahun. Generasi muda inilah yang menjadi kekuatan kreatif kita bersama, yang akan membentuk masa depan kebudayaan, mengubah tradisi menjadi inovasi,” pungkasnya.

Namun, menurut Fadli, tantangan besar seperti perubahan iklim, yang akan menjadi isu sentral IPACS, kini mengancam keberlanjutan warisan tersebut. Menurut laporan UNESCO dan World Resources Institute (2023), sebanyak 73% situs Warisan Dunia terancam bahaya terkait air, seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan laut.

Baca Juga :  Bertolak ke TAIWAN, Ketum KADIN NTT Bawa produk Lokal NTT

“Warisan budaya dan tradisi di kawasan Pasifik menghadapi ancaman serius seperti perubahan iklim. Melalui IPACS 2025, budaya ditegaskan bukan hanya sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai sumber solusi untuk ketahanan iklim, pelestarian lingkungan, dan pembangunan masa depan.” Ujar Fadli.

Melalui forum ini, Indonesia mendorong sinergi kawasan dalam melestarikan warisan budaya, memperkuat inovasi, serta membuka peluang yang inklusif bagi generasi muda, pelaku wirausaha kreatif, dan komunitas lokal di seluruh wilayah Pasifik.

“Saya berharap IPACS 2025 dapat menjadi wadah untuk  memperkuat jejaring budaya dan saling pengertian antara Indonesia dan negara-negara Pasifik, meningkatkan kesadaran akan dampak perubahan iklim, mendukung pencapaian #Culture2030Goal sebagai pilar pembangunan pasca-2030,  dan memberdayakan komunitas, termasuk pemuda dan pelaku ekonomi kreatif.” Tegas Fadli.

Acara pembukaan IPACS 2025 ditandai dengan pemukulan Tifa secara simbolis oleh seluruh pejabat dan para wakil delegasi negara-negara Asia Pasifik. Momen tersebut menjadi simbol persaudaraan dan semangat kebersamaan di antara bangsa-bangsa kepulauan. Rangkaian acara dilanjutkan dengan peluncuran dan penandatanganan IPACS Commemorative Stamp, serta penampilan memukau dari NTT Children’s Choir dan Sand Art Performance, yang menghadirkan kehangatan dan kekayaan ekspresi budaya NTT sebagai tuan rumah.

Melalui berbagai sesi seperti dialog tingkat menteri, pameran budaya, program residensi, diskusi panel, serta pertunjukan budaya, IPACS 2025 diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi bersama untuk memperkuat kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan negara-negara Pasifik.

Forum ini juga membuka peluang bagi terwujudnya program residensi seni dan budaya berkelanjutan, yang menjadi wadah bagi para seniman dan pelaku budaya untuk saling berkolaborasi dan berinovasi. Dengan demikian, IPACS 2025 bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan langkah strategis dalam memperkuat diplomasi budaya, pengembangan ekonomi kreatif, dan solidaritas lintas kawasan.

Baca Juga :  KADIN NTT Kunjungi Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Ghuangzhou

Untuk diketahui, kegiatan pembukaan Indonesia–Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 turut dihadiri oleh delegasi dari berbagai negara peserta. Hadir antara lain Menteri Negara Pariwisata, Seni dan Budaya Papua Nugini, Belden Norman Namah; Menteri Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Kewarganegaraan Kaledonia Baru, Mickaël Forrest; Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Kepulauan Solomon, Choy Lin Yim Douglas; serta Menteri Kebudayaan Republik Fiji, Ifereimi Vasu.

Turut hadir pula Kepala Delegasi Kerajaan Tonga, Semisi Veatupu Tongia; Kepala Delegasi Republik Demokratik Timor-Leste, José Boavida Simões; Kepala Delegasi Republik Vanuatu, Henline Mala; Kepala Delegasi Republik Palau, Kiblas Soaladaob; Kepala Delegasi Tuvalu, Noa Petueli Tapumanaia; Kepala Delegasi Republik Kiribati, Bwereti Tewareka; Kepala Delegasi Republik Nauru, Romana Koepke; serta Kepala Delegasi Kepulauan Marshall, Antari Elbon.

Dari Indonesia, hadir Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk; Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, Emilia Nomleni; serta Wali Kota Kupang, Christian Widodo.*

  • Bagikan