Gerakan Hijau Bank NTT di SBD: Dari Sampah Menuju Sejahtera

  • Bagikan
2b744062 9467 487c 81a7 0de8c222a136 768x957 1

Dalam dokumen visi pembangunan daerah, Bupati Ratu Wulla mencantumkan lingkungan bersih dan sehat sebagai satu dari enam misi utama pemerintahan SBD periode 2024–2029. Tapi, kata Ratu, “Tak ada gunanya visi muluk kalau tempat buang sampah saja tak tersedia.”Kehadiran Bank NTT, yang selama ini identik dengan pembiayaan usaha kecil dan pengelolaan keuangan daerah, kini memperluas makna hadirnya: dari pencairan kredit ke pengadaan bak sampah. Sebuah langkah yang tampak sederhana, tapi bisa menjadi katalis perubahan kebiasaan.

“Kita tidak bisa menunggu ada investor besar untuk urusan sampah. Kita harus mulai dari langkah-langkah kecil. Ini yang kami sebut intervensi strategis,” kata pimpinan Bank NTT Cabang Waitabula, yang enggan menyebutkan nilai anggaran yang dikeluarkan.
Warga di sekitar pusat kota Waitabula menyambut baik program ini.

Dian Ndapamerang, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kelurahan Langga Lero, berharap tempat sampah itu tidak hanya diletakkan, tapi dikelola dengan benar. “Selama ini, buang sampah sembarangan itu biasa. Mudah-mudahan dengan ini, malu juga kita kalau sembarang buang,” ujarnya sambil tersenyum.Seperti banyak daerah lain di NTT, masalah lingkungan di SBD tak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Diperlukan aktor non-negara yang bersedia “turun tangan”, bukan hanya “menyumbang nama”. Di titik inilah, Bank NTT memainkan perannya: sebagai bank milik daerah yang tak hanya mengelola uang, tapi juga harapan.“Kalau kita ingin SBD bersaing dengan kabupaten lain, kita harus bersih dulu. Bersih kota, bersih niat, bersih kerja,” pungkas Bupati Ratu Wulla, menutup pidato ringkasnya.

Tempat sampah tak hanya menjadi wadah sampah. Ia menjadi tanda zaman. Bahwa pembangunan bukan soal gedung dan jalan, tapi juga tentang siapa yang bersedia membersihkan halaman bersama.*

  • Bagikan