Dalam kesempatan itu, Buce Lioe menegaskan bahwa visi kepemimpinan “TTS Maju, Mandiri, Sejahtera” juga menempatkan petani sebagai aktor utama yang harus semakin mandiri dan produktif. Sub-sektor perkebunan, kata dia, akan difokuskan kembali pada pengembangan kelapa, kopi, dan jambu mete mulai 2025.
Ia menyampaikan bahwa pengembangan komoditas tersebut dilakukan melalui pola Calon Petani dan Calon Lokasi (CP/CL) pada kelompok tani serta kolaborasi dengan lembaga keagamaan agar umat dapat menanam di lahan masing-masing.
Tak kalah penting bahwa dengan dikukuhkannya 87 kelompok baru, jumlah kelompok tani di Kabupaten TTS saat ini mencapai 3.890 kelompok dengan total anggota 69.632 petani.
Meski demikian, mayoritas kelompok tani masih berada pada kategori pemula, sehingga membutuhkan pendampingan intensif dari penyuluh untuk meningkatkan kapasitas kelompok.
Pada kegiatan terpisah pada hari yang sama, Bupati TTS juga melepas 37,5 ton benih jagung varietas MAXXI 1 yang diperuntukkan bagi lebih dari 600 kelompok tani di seluruh kabupaten.
Pelepasan benih jagung tersebut merupakan bagian dari program peningkatan produksi melalui penyediaan benih unggul, dukungan alat dan mesin pertanian, optimalisasi lahan, serta perbaikan akses pupuk dan infrastruktur air.
Kegiatan itu menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat peningkatan produksi jagung sebagai komoditas unggulan yang menopang ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat TTS.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD TTS, Marthen Natonis, yang turut hadir, menegaskan pentingnya kelompok tani sebagai syarat utama bagi warga untuk dapat mengakses pupuk, bibit, dan bantuan alat pertanian.
Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu terorganisir dalam kelompok agar bantuan pemerintah dapat tersalurkan secara tepat sasaran dan efektif.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













