Data menunjukkan bahwa degradasi hutan terparah di NTT terjadi di wilayah Timor Tengah Selatan (TTS), di mana luas hutan menyusut drastis dari 54.436,77 hektar pada tahun 2017 menjadi 32.242,32 hektar pada tahun 2020. Kludolfus menegaskan bahwa kesadaran kepala daerah dalam menjaga kelestarian lingkungan sangat penting. “Selama ini, banyak kepala daerah lebih fokus pada proyek jangka pendek yang memberikan keuntungan langsung, daripada investasi jangka panjang seperti penanaman pohon yang hasilnya baru dapat dirasakan dalam 10-30 tahun mendatang,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan harapannya agar NTT dipimpin oleh sosok yang peduli terhadap lingkungan. “Hanya dengan demikian, berbagai bencana ekologis yang melanda daerah ini dapat ditekan, dan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan,” pungkasnya.
Beberapa jenis pohon yang dibibitkan di pusat pembibitan BPDAS Benanai-Noelmina antara lain kelor, pinang, jati putih, sengon, dan berbagai tanaman lainnya yang sesuai dengan kondisi lahan di NTT. Program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi upaya pelestarian lingkungan di NTT dan mengurangi risiko bencana akibat degradasi lahan.*
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













