Terkait dengan penyakit lain seperti African Swine Fever (ASF) yang sempat menyerang peternakan babi di NTT, Kepala Karantina menjelaskan bahwa upaya vaksinasi telah dilakukan dengan baik, sehingga kasus tersebut kini sudah bisa dikendalikan. “Angka kematian yang awalnya mencapai 80-90 persen kini sudah jauh berkurang berkat program vaksinasi yang kita jalankan,” jelasnya.
Selain hewan, sektor tumbuhan juga mendapat perhatian. Kepala Karantina menjelaskan bahwa produk-produk seperti kemiri, kelapa, dan pisang yang dihasilkan dari wilayah NTT, khususnya dari daratan Flores, terus dipasarkan ke luar daerah. Ia menegaskan pentingnya memastikan bahwa produk tersebut memenuhi standar karantina untuk menjaga reputasi komoditas NTT.
Beliau juga menekankan bahwa upaya menjaga Provinsi NTT bebas dari penyakit harus dilakukan secara kolektif, terutama di wilayah yang rentan seperti Flores dan Timor. “Rabies juga menjadi salah satu ancaman serius. Kita harus terus berupaya menjaga daerah-daerah yang masih bebas dari penyakit ini dengan bantuan dan kerja sama dari semua pihak,” ujarnya.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kesehatan hewan, ikan, dan tumbuhan di NTT, serta meningkatkan kerjasama antar pihak terkait untuk menjaga wilayah NTT tetap bebas dari berbagai ancaman penyakit yang berpotensi merugikan secara ekonomi dan sosial.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













