“Moto kami adalah saat meninggalkan kandang tidak boleh ada kotoran hewan yang tersisa,” ujarnya.
Kotoran ternak tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung budidaya sayuran tanpa menggunakan pupuk kimia. Ke depan, David menargetkan populasi ternaknya dapat mencapai 200 ekor dengan sedikitnya 20 ekor indukan betina.
Menurutnya, beternak babi bukan hanya menjadi aktivitas yang mengisi waktu luang saat libur dari tugas kedewanan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan yang cukup menjanjikan.
“Memelihara babi menjadi hiburan saat libur kantor. Selain itu, usaha ini sangat membantu ketika membutuhkan dana karena ternaknya bisa dijual,” ungkapnya.
David menjelaskan, anakan babi berusia sekitar satu bulan hingga satu bulan dua minggu dijual dengan harga sekitar Rp1,5 juta per ekor.
Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda di Kabupaten Timor Tengah Selatan, mulai melirik sektor peternakan sebagai peluang usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus membuka lapangan kerja di daerah.*
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













