Soal penjualan karcis, Joni menyarankan agar sistem digital segera diterapkan. Karcis manual yang berlaku saat ini dinilai rawan manipulasi dan bisa menyeret kepala dinas ke pusaran kasus korupsi. “Gunakan pakaian seragam berlogo Dinas. Jangan main ‘cilukba’ dengan karcis abal-abal,” katanya sinis.
Lebih lanjut, ia mendorong pelatihan ulang bagi semua petugas dan penjaga tempat wisata. Mulai dari cara menyapa pengunjung, berpakaian, sampai soal etika pelayanan. “Wisatawan datang bukan untuk diintimidasi. Mereka harus merasa nyaman, aman, dan dilayani dengan senyum,” katanya.
Joni bahkan menyarankan Pemkab TTS tak perlu gengsi untuk menggandeng pihak ketiga yang lebih profesional dalam pengelolaan objek wisata. “Kalau tidak mampu, kasih saja ke yang lebih tahu. Dinas tinggal duduk manis, tunggu setoran masuk ke kas daerah,” katanya.
Pernyataan bernada pedas ini mendapat sambutan dari warganet yang belakangan gerah melihat rusaknya fasilitas dan tidak transparannya pengelolaan di Oehala. Sebagian menduga ada “tikus” yang bermain di balik karcis.
“Benahi semua tempat wisata di TTS! Jangan berdasarkan maunya pejabat eselon, tapi sesuai ilmu pariwisata yang benar,” tutup Joni.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













