Fatuulan, NTT – Ketidakpastian pemasangan meteran listrik murah di Desa Fatuulan semakin membuat warga geram. Setelah berulang kali meminta kepastian, warga kini hanya ingin uang mereka dikembalikan. Namun, pihak terkait justru saling lempar tanggung jawab.
Warga mengaku khawatir jika mereka memasang meteran baru dengan biaya sendiri, uang Rp500.000 yang telah mereka setorkan akan hilang begitu saja. “Kami mau pasang sendiri, tapi kalau nanti uang itu tidak dikembalikan, kami rugi. Jadi kami tahan-tahan dulu,” kata seorang warga yang terdampak.
Ketika dikonfirmasi, kepala desa mengakui bahwa dana warga telah dialihkan ke pihak ketiga. SN, yang disebut bertanggung jawab atas proyek ini, mengungkapkan bahwa program tersebut awalnya dirancang untuk membantu masyarakat mendapatkan meteran listrik dengan harga murah. Namun, karena calon anggota DPR yang menjadi penyokong dana utama kalah dalam pilkada, proyek ini mandek.
Alasan yang Tidak Masuk Akal?
Menurut SN, uang Rp500.000 yang dikumpulkan dari warga telah digunakan untuk mengurus SLO dan NIDI, yang memakan biaya Rp350.000, sementara sisanya digunakan untuk membeli material listrik. Namun pasca pemilihan serentak 2024 dan proyek dihentikan, SN sempat meminta vendor untuk melanjutkan pemasangan dengan penambahan Rp250.000 per rumah namun vendor tetap saj menolak karena terlanjut merugi.
Lebih lanjut, SN mengklaim bahwa beberapa instalasi yang telah dipersiapkan untuk desa Fatuulan malah dialihkan ke desa lain, yakni Moleu. Hal ini semakin menambah kecurigaan warga bahwa mereka telah menjadi korban penipuan terselubung.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













