<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cagar Alam Mutis &#8211; Timor Savana.Com</title>
	<atom:link href="https://www.timorsavana.com/tag/cagar-alam-mutis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.timorsavana.com</link>
	<description>Menjembatani Hak Publik Untuk Tahu</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Dec 2024 15:08:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://www.timorsavana.com/wp-content/uploads/2023/09/cropped-512-thumb-100x75.png</url>
	<title>Cagar Alam Mutis &#8211; Timor Savana.Com</title>
	<link>https://www.timorsavana.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Usif Lif Oematan Tegaskan Mutis Adalah Sumber Kehidupan</title>
		<link>https://www.timorsavana.com/daerah/usif-lif-oematan-tegaskan-mutis-adalah-sumber-kehidupan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TimorSavana.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Dec 2024 15:04:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Cagar Alam Mutis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekosistem Pulau Timor]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Mutis]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik Timor]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat Timor]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Usif Lif Oematan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.timorsavana.com/?p=4093</guid>

					<description><![CDATA[TIMOR SAVANA.COM, Kupang – Polemik terkait rencana alih fungsi Cagar Alam Mutis menjadi Taman Nasional...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://timorsavana.com" target="_blank" rel="noopener">TIMOR SAVANA.COM</a>, Kupang – Polemik terkait rencana alih fungsi Cagar Alam Mutis menjadi Taman Nasional (TN) menuai reaksi keras dari tokoh adat Timor, Usif Lif Oematan. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Gunung Mutis adalah sumber kehidupan, tidak hanya bagi masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU), tetapi juga seluruh Pulau Timor, termasuk Timor Leste.</p>
<p>Menurut Usif Lif Oematan, langkah pemerintah pusat hingga daerah dalam merubah status Cagar Alam Mutis menjadi Taman Nasional adalah kebijakan yang menghancurkan nilai-nilai budaya, ekosistem, dan hubungan persaudaraan masyarakat Timor.</p>
<div style="clear:both; margin-top:0em; margin-bottom:1em;"><a href="https://www.timorsavana.com/daerah/11-organisasi-domo-tuntut-bksda-ntt-soal-tn-mutis/" target="_blank" rel="dofollow" class="u614721a9df3b44def3d800e416d8d411"><style> .u614721a9df3b44def3d800e416d8d411 { padding:0px; margin: 0; padding-top:1em!important; padding-bottom:1em!important; width:100%; display: block; font-weight:bold; background-color:#eaeaea; border:0!important; border-left:4px solid #2C3E50!important; box-shadow: 0 1px 2px rgba(0, 0, 0, 0.17); -moz-box-shadow: 0 1px 2px rgba(0, 0, 0, 0.17); -o-box-shadow: 0 1px 2px rgba(0, 0, 0, 0.17); -webkit-box-shadow: 0 1px 2px rgba(0, 0, 0, 0.17); text-decoration:none; } .u614721a9df3b44def3d800e416d8d411:active, .u614721a9df3b44def3d800e416d8d411:hover { opacity: 1; transition: opacity 250ms; webkit-transition: opacity 250ms; text-decoration:none; } .u614721a9df3b44def3d800e416d8d411 { transition: background-color 250ms; webkit-transition: background-color 250ms; opacity: 1; transition: opacity 250ms; webkit-transition: opacity 250ms; } .u614721a9df3b44def3d800e416d8d411 .ctaText { font-weight:bold; color:#16A085; text-decoration:none; font-size: 16px; } .u614721a9df3b44def3d800e416d8d411 .postTitle { color:#3498DB; text-decoration: underline!important; font-size: 16px; } .u614721a9df3b44def3d800e416d8d411:hover .postTitle { text-decoration: underline!important; } </style><div style="padding-left:1em; padding-right:1em;"><span class="ctaText">Baca Juga :</span>&nbsp; <span class="postTitle">11 Organisasi Domo Tuntut BKSDA NTT Soal TN Mutis</span></div></a></div>
<p><strong>Mutis, Kepala Orang Timor</strong></p>
<p>“Mutis itu kepalanya orang Timor,” tegas Usif Lif Oematan. Ia menggambarkan betapa pentingnya Gunung Mutis bagi kehidupan masyarakat Timor. Tujuh sungai yang bersumber dari kawasan ini tidak hanya menghidupi masyarakat lokal, tetapi juga menjadi sumber air utama bagi berbagai wilayah hingga ke Timor Leste. <br /><br />Dalam budaya Uab Meto, bahasa adat Timor, Taman Nasional memiliki makna yang menakutkan. “TN bagi kami bukan berarti Taman Nasional, tetapi <strong><em>Tam Nem (</em></strong>masuk datang) dan <em><strong>Tiun Na</strong></em> (minum darah). Jika digabungkan, ini berarti jika Taman Nasional dipaksakan, maka akan ada pertumpahan darah,” jelas Lif.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nelson Matara Pertanyakan Dampak Perubahan Fungsi Cagar Alam Mutis</title>
		<link>https://www.timorsavana.com/daerah/nelson-matara-pertanyakan-dampak-perubahan-fungsi-cagar-alam-mutis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TimorSavana.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Dec 2024 04:40:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Cagar Alam Mutis]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Mutis Timau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.timorsavana.com/?p=3705</guid>

					<description><![CDATA[Perubahan fungsi Cagar Alam Mutis menjadi Taman Nasional Mutis terus menuai perhatian publik. Dalam diskusi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Perubahan fungsi Cagar Alam Mutis menjadi Taman Nasional Mutis terus menuai perhatian publik. Dalam diskusi bertema *Quo Vadis Mutis* yang digelar di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, anggota DPRD Provinsi NTT dari Komisi IV, Nelson Matara, mengajukan 18 pertanyaan kritis terkait dampak perubahan tersebut. Diskusi ini turut menghadirkan Usif Lif Oematan (Sonaf Oematan) Keyatanus Abi(Ketua Forum Sejarah dan Budaya Timor), BKSDA NTT, akademisi Undana, dan WALHI NTT sebagai narasumber.</p>
<p>Sebagai wakil rakyat, Nelson Matara menegaskan perannya untuk memastikan suara masyarakat adat dan lingkungan menjadi pertimbangan utama. Dalam diskusi, ia mengangkat sejumlah isu strategis yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan ekosistem Mutis dan kehidupan masyarakat sekitarnya. Salah satu perhatian utama Matara adalah perlindungan pohon Ampupu, yang merupakan spesies khas kawasan tersebut. &#8220;Apakah setelah menjadi taman nasional, pohon Ampupu akan ditebang dan diganti dengan tanaman budidaya lain?&#8221; tanyanya. <br /><br />Matara juga mempertanyakan rencana pengelolaan taman nasional jika melibatkan pihak investor. &#8220;Apakah benar setelah menjadi taman nasional, pengelolaannya akan diserahkan kepada investor? Jika terdapat potensi tambang emas di dalam kawasan ini, apakah nantinya akan dieksploitasi oleh pihak taman nasional?&#8221; ujarnya. Kekhawatiran ini mencerminkan ketidakpastian masyarakat tentang dampak ekonomi dan ekologi dari perubahan status tersebut. <br /><br />Isu pembangunan infrastruktur di kawasan Gunung Mutis menjadi salah satu pertanyaan paling kontroversial. &#8220;Apakah benar setelah menjadi taman nasional, akan dibangun hotel di atas Gunung Mutis?&#8221; Pertanyaan ini menyoroti kekhawatiran akan perubahan fungsi kawasan suci menjadi komersial. <br /><br />Lebih lanjut, Matara juga menyoroti dampak perubahan status terhadap objek wisata di luar kawasan taman nasional. &#8220;Apakah objek wisata di luar taman nasional masih akan diperhatikan? Apakah masyarakat setempat akan tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari pengelolaan pariwisata ini?&#8221; Pertanyaan tersebut mencerminkan komitmennya untuk melindungi hak-hak masyarakat setempat. <br /><br />Diskusi berlangsung dengan penuh dinamika, di mana Nelson Matara terus menegaskan pentingnya transparansi dan keterlibatan masyarakat dalam setiap keputusan terkait perubahan fungsi kawasan Mutis. Ia menekankan bahwa kawasan Mutis memiliki nilai ekologi, sosial, dan budaya yang harus dijaga dengan cermat. <br /><br />Di hadapan para narasumber dan peserta diskusi, Matara menegaskan bahwa perannya adalah menjadi penjaga kepentingan masyarakat. &#8220;Sebagai wakil rakyat, kami akan terus memposisikan diri sebagai mediator antara pemerintah dan masyarakat. Keputusan apa pun yang diambil harus memastikan keberlanjutan lingkungan dan perlindungan masyarakat adat yang telah menjaga kawasan ini selama berabad-abad,&#8221; tutupnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
